Usabersyariah.Com --- Pernyataan Presiden Jokowi yang menyebut kurs rupiah diukur Yuan Cina lebih relevan dibanding Dolar AS mendapatkan kritik dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).



“Apapun patokannya tidak akan mengangkat perekonomian negeri ini,” tegas Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman kepada mediaumat.com, Jum’at (9/12/2016).

Pasalnya, lanjut Yahya, persoalan utamanya bukanlah Dolar atau Yuan yang jadi patokan, tetapi penerapan sistem mata uang kertas (fiat money) sebagai ikutan dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang nyata-nyata rusak.

Ia pun memberikan solusi dengan menerapkan mata uang yang stabil yang diterapkan dalam sistem ekonomi dan pemerintahan Islam.

“Karena itu solusi mendasarnya: terapkan sistem mata uang dinar-dirham (emas-perak) dan sistem ekonomi Islam, tentu dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah),” pungkasnya. (mediaumat.com)



Di akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai yang kecil-kecilan semacam dalam arisan warga. 

Entah mungkin kaum muslimin tidak mengetahui hakekat dan bentuk riba. Mungkin pula mereka tidak mengetahui bahayanya. 

Apalagi di akhir zaman seperti ini, orang-orang begitu tergila-gila dengan harta sehingga tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Sungguh, benarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ù„َÙŠَØ£ْتِÙŠَÙ†َّ عَÙ„َÙ‰ النَّاسِ زَÙ…َانٌ لاَ ÙŠُبَالِÙ‰ الْÙ…َرْØ¡ُ بِÙ…َا Ø£َØ®َذَ الْÙ…َالَ ، Ø£َÙ…ِÙ†ْ Ø­َلاَÙ„ٍ Ø£َÙ…ْ Ù…ِÙ†ْ Ø­َرَامٍ

“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083) 

Oleh karena itu, sangat penting sekali materi diketengahkan agar kaum muslimin apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahanya. 

Allahumma yassir wa a’in. Ya Allah, mudahkanlah kami dan tolonglah kami dalam menyelesaikan pembahasan ini.

Contributors

Powered by Blogger.