Dengan diberlakukannya Undang-Undang ITE, akhir-akhir ini tidak sedikit para aktivis Dakwah Islam dan ulama diduga dikriminalkan dengan mengunakan UU ini. 



Untuk menghindari agar tidak terjadi lagi kejadian serupa, KSHUMI (Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia) melakukan Roadshow dan Sosialisai UU ITE di daerah Banyumas Raya dengan mengangkat tema "Membahas Arah Politis Implementasi UU ITE dan Sosialisasi kepada Advokat, Ormas Islam dan Penggiat Media Sosial"  dengan Pembicara Ketua KSHUMI Pusat Chandra Purna Irawan SH, MH  yang bertempat di meeting room Kemangi Kafe & Resto Purwokerto. Sabtu malam (28/1).

Dalam paparannya Candra Purna Irawan menjelaskan bawa saat ini menyampaikan dakwah Islam lewat dunia Maya sangatlah penting, namun dalam penyampaiannya harus memperhatikan rambu-rambu yang ada sehingga tidak terjerat dengan persoalan Hukum. 

Karena saat ini oknum-oknum didalam kekuasaan diduga mengunakan hukum sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingannya.

Ketua KSHUMI ini menegaskan bahwa para aktivis Dakwah Tidak perlu takut menyampaikan dakwahnya dimedia sosial, yang penting tahu mengemas kata dan gambar sehingga mampu mengubah pemikiran, perasaan dan menggerakan jiwa orang lain untuk serta berdakwah.
"Intinya jika menulis harus disertai data, tidak ada hoax, tidak ada unsur kebencian, tindakan asusila dan pencemaran nama baik" jelas Chandra.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Zulhaidir SH (tim Advokat Pembela Muslim), "kenapa kita harus mengkaji UU ITE ini, karena saat ini suasana politik yang semakin panas dan dimanfaatkan oleh Penguasa untuk memberangus lawan politiknya yang dianggap membahayakan kepentingannya, sehingga umat Islam harus memahaminya.  

Maka disinilah peran para advokat muslim untuk membela Dan melindungi dakwah serta kaum muslimin yang di kriminalisasi oleh Rezim.

Selain itu, Ketua KSHUMI Banyumas Sri Mulyono, SH menyampaikan dalam sambutannya, bahwa pembentukan KSHUMI di Banyumas masih baru dan dalam tahap konsolidasi dengan harapan seluruh sarjana Hukum Muslim bersatu membela dakwah islam dan kepentingan kaum muslimin.

"KSHUMI hadir bukan untuk menyaingi Ikadi atau Peradi. Tapi KASHUMI hadir untuk menghimpun para sarjana hukum muslim agar berada dalam barisan utk membela ulama dan dakwah islam" jelas Mulyono, SH. 

Acara yang dihadiri oleh para perwakilan Tokoh Umat, Ulama, Advokat, Aktivis dakwah, ormas dan undangan lainnya yang berasal dari Purwokerto, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara ini berjalan lancar, para peserta mengikutinya dengan antusias hingga acara tersebut berakhir.
(Munajat)

UsaBersyariah.Com --- Beredarnya kabar pergantian nama hotel Alexis menjadi 4Play menjadi pembicaraan hangat beberapa hari ini. Menurut Senator DKI Jakarta Fahira Idris, pada prinsipnya, mau seribu kali ganti brand sekalipun, manajemen Alexis dilarang mengoperasionalkan hotel dan griya pijat (spa) karena izin nya sudah tidak ada lagi. Jikapun 4Play ini adalah sub usaha yang lain (karaoke dan live musik) dan izinnya memang sudah ada, tetap saja warga Jakarta akan mengawasi tindak-tanduk Alexis.


“Jika nanti 4play yang katanya merupakan tempat karaoke dan live musik ada indikasi pelanggaran hukum nasibnya akan sama dengan hotel dan griya pijat yaitu ditutup permanen. Kami warga Jakarta akan awasi tindak tanduk manajemen Alexis dan segera melapor, baik ke Pemprov DKI Jakarta maupun ke kepolisian jika ada indikasi pelanggaran hukum baik di tempat karaoke maupun live musik ini,” ujar Fahira Idris melalui pernyataan tertulisnya kepada Suara Islam Online, Selasa (28/11).

Fahira mengungkapkan, peringatan ini bukan hanya untuk Alexis tetapi untuk semua pengusaha hotel, spa, karaoke, club, diskotik dan jenis usaha hiburan malam lainnya di Jakarta. Fahira juga meminta kepada jajaran Pemerintah DKI Jakarta untuk memastikan bahwa 4Play ini bukan kamuflase untuk kembali mengoperasikan aktivitas hotel dan spa mereka. Tidak boleh ada lagi kompromi bagi hotel dan tempat hiburan malam di Jakarta yang melakukan pelanggaran hukum, praktik asusila ataupun yang menjadi tempat transaksi dan memakai narkoba.

“Selama usaha anda berizin, tidak melakukan pelanggaran hukum terutama narkoba dan asusila, usaha Anda akan baik-baik saja. Tetapi jika melakukan pelanggaran, maka tidak ada ampun, izin usaha anda akan dicabut,” tegas Ketua Komite III DPD RI ini.

Ke depan, sambung Fahira, Jakarta harus menjadi kota beradab dengan menghilangkan segala bentuk kegiatan yang menyimpang dari peraturan daerah. Kota yang tidak kompromis terhadap praktik yang tak sesuai dengan perda terlebih asusila dan narkoba.

“Sebagai ibu kota, kota terbesar, dan pusat segala aktivitas mulai dari ekonomi, politik, dan budaya, Jakarta sudah seharusnya role model kota lain di Indonesia. Jakarta harus bisa menjadi rujukan bagi kota lain dalam penataan dan pembangunannya. Dan saya yakin Anies-Sandi punya komitmen mewujudkan itu,” pungkasnya.[suaraislam]

UsaBersyariah.Com --- Meski sampai saat ini belum masuk Islam, ayahnya Ustadz Felix Siauw mendukung dakwah mualaf tersebut.

“Anda lihat di foto, tepat di sebelah saya yang bertopi adalah ayah saya, yang harusnya secara akidah bertentangan, harusnya dia yang paling tersinggung dengan isi kajian saya. Andai saya seperti yang dituduhkan, bahwa saya radikal, memecah belah, takkan mau beliau duduk di samping saya, berfoto bersama, mungkin bahkan mengusir saya,” ungkapnya dalam status berjudul Musuh Berakal dan Kawan Jahil, Jum’at (24/11) di fanpage Facebook Ustadz Felix Siauw



Ia menyebut Ustadz Somad pernah memberitahu, bahwa musuh yang berakal lebih baik daripada kawan yang jahil. Dan nyatanya itu benar adanya, sesuai dengan kenyataannya. Karena kadang yang bukan Muslim bisa lebih toleransi daripada Muslim yang gembar-gembor toleransi.

“Ayah saya alhamdulilah masih menerima saya dengan tangan terbuka. Yang di belakang itu, semua karyawan ayah saya, dikumpulkan selama tiga hari untuk diberikan tausiyah, disampaikan kajian pada mereka, beliau fasilitasi kajian bukan membubarkan,” ujarnya.

Padahal ayahnya Felix bukan Muslim, tapi memfasilitasi dakwahnya, sampai-sampai diguyoni oleh teman gerejanya “Pak Iwan penyandang dana teroris”, tapi dia nyaman-nyaman saja.

Felix keliling Nusantara, disambut dengan akhlak yang baik dan ramah oleh umat. Hanya sekarang sedang diuji dengan beberapa kelompok yang intoleran atas nama toleransi.

“Ayah saya belumlah Muslim, dia tonton semua video saya, dia fasilitasi dakwah saya, sebab dia berakal, melihat kebaikan dari dakwah, kebenaran Islam walau belum mengikuti jalan itu. Sementara teman yang harusnya membimbing, mengawani dalam Islam, justru yang banyak menentang, menuduh, memprovokasi, Allah Karim, ini tugas yang cukup berat,” bebernya.[] Joko Prasetyo

Contributors

Powered by Blogger.