Showing posts with label tsaqofah. Show all posts

UsaBersyariah.Com --- Janganlah lantas ketidaksukaan kepada sesama muslim diekspresikan dengan ‘okol’ yang meniadakan akhlak. Bukankah kita sebagai bangsa Indonesia yang berbudi luhur dan tepa selira? Lalu mengapa demi menggagalkan rencana saudara sesamanya harus menggunakan bentakan dan pasukan semi militer? Ada apakah gerangan? Apakah itu benar-benar dilandasi oleh niatan tulus atau sekadar reaksi sporadis yang tak tahu akan tujuan?


Bergelayut pertanyaan itu hendaklah mampu dijawab dengan akal yang jernih. Kehebatan ‘okol’ tak lantas membuat orang itu sombong dan membanggakan diri. Sebaliknya kanjeng nabi sudah berpesan bahwa orang yang kuat ialah yang mampu menahan amarahnya. Lantas, mengapa harus marah, jika ramah bisa lebih barokah?

Noda Rajab

Bulan Rajab termasuk bulan haram serta dimuliakan. Sayangnya, umat di negeri ini disibukkan dengan ragam isu murahan untuk menghadang sesama umat Islam. Padahal ada dua peristiwa penting di bulan ini. Pertama, 27 Rajab diperingati Isra’ Mi’raj. Kedua, 28 Rajab peristiwa keruntuhan Khilafah Islamiyah.

Rajab tahun ini begitu ternoda atas tindakan anarkisme dan ‘kudeta’ perasaan yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya. Pemberitaan media yang massif dan komporisasi pencari uang di media, menyudutkan umat Islam yang sedang melangsungkan agendanya. Stigma negatif kepada umat Islam diciptakan untuk menimbulkan keresahan. Seolah mereka adalah gerakan pengacau keamanan dan gangguan. Di sisi lain, kobaran api permusuhan sengaja didesain dalam operasi senja pencipta rekayasa.

Satu pihak dimanfaatkan untuk berhadapan langsung menjadi pion. Di pihak lain mencuci tangan seolah ikut menjaga dan mengamankan. Menarik yang disampaikan pengamat kepolisian, Irjen Pol (Purn) Sudirman Ali bahwa “dunia intelijen itu dunia orang cerdas. Hanya orang cerdaslah yang bisa bermain dengan memanfaatkan orang-orang yang tidak cerdas.”

Rajab kali ini benar-benar ternoda. Padahal di awal masuk bulan rajab, kita semua berdoa: “Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’bana, wa balighna ramadhan”. Hal yang lebih arif ialah di rajab ini semua umat Islam lebih mawas diri. Memaknai beragam peristiwa penting pada 27 dan 28 Rajab. Jangan sampai perintah Salat lima waktu yang diterima nabi senantiasa diingat. Sementara institusi yang menerapkan syariah Islam kaffa dilupakan bahkan dihinakan. Na’udzubillahi min dzalik.

Hijab Terbuka

Kini semua sudah terbuka. Permainan itu telah diketahui siapa dalangnya dan motifnya. Hentikan segala pertikaian yang justru akan merugikan sesama umat Islam. Jangan membuat musuh Islam tertawa dan bahagia melihat umat Islam masih berseteru dan berokol mempertahankan egoismenya. Bergeraklah karena keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Jangan bergerak demi menghamba pada materi, uang, dan kuasa. Setiap perjuangan akan sukses jika diniatkan lillahi ta’ala.

Jangan mau diperdaya dan diadu domba. Bersiap siagalah untuk menghadapi musuh yang nyata yaitu orang-orang kafir dan negara penjajah yang telah merongrong negeri-negeri kaum muslimin. Janganlah sesama umat berkonfrontasi, karena konfrontasi membuat frustasi. [VM]

Penulis : Sutrisno

SAAT ini klaim tentang istilah Ahlus Sunnah (Sunni) menjadi sedikit menggangu disebabkan masih adanya sedikit hambatan di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok menganggap dirinya Ahlus Sunnah sedang lainnya bukan. Padahal, klaim tersebut terjadi di antara Ahlus Sunnah sendiri.


Adalah Syaikh Abul Aun As-Safarini Al–Hanbali (w.1188H) dengan tegas mengatakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah terdiri dari tiga kelompok, yaitu, al-Atsariyyah dengan imamnya Ahmad bin Hambal, al-Asy’ariyyah dengan imamnya Abul Hasan Al-Asy’ari dan al-Maturidiyyah dengan imamnya Abu Manshur Al-Maturidi” (Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, 1/73).

Artinya, kelompok mana saja yang menisbahkan dirinya kepada salah satu imam dari ketiga imam di atas berarti masih berhak menyandang predikat Ahlus Sunnah.

Memang tidak bisa dipungkiri terjadinya perselesihan dipicu oleh beberapa kitab yang membahas masalah tersebut namun kurang mendalam dan tidak adil. Sebagai contoh Abu Yusuf Madahat bin Hasan Ali Farraaj, menyebut aqidah Asy’ari sebagai aqidah yang kotor karena ia berasal dari mazhabnya Jahm bin Sofyan, pendiri Jahmiyah. Mazhab Asy’ari dinilai sesat karena menakwilkan ayat-ayat sifat. (Fatawa al-Immah an-Najdiyah… I/514). Dengan kata lain penulis buku ini menuduh Asy’ari bukan termasuk Ahlus Sunnah.

Tentu saja penilain seperti ini menuai reaksi dari banyak ulama yang mayoritas menganut mazhab Asy’ari. Sebab yang dipahami oleh pengikut mazhab ini, Abu al-Hasan Ays’ari berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah, dan mengikuti jejak salaf. Asy’ari tidak menciptakan madzhab baru tetapi menarasikan madzhab salaf dan memperjuangkan pandangan para sahabat Rasulullah Saw. Karena itu mengikuti Imam Asy’ari berarti mengikuti jejak salaf dan berpegang teguh terhadapnya, serta membangun argumentasi yang kokoh terhadap jejak mereka. Orang yang melakukan itu semua disebut sebagai Asy’ariyyah. (Tajuddin as-Subki, Thobaqot as-Syafi’iyyah al-Kubra, III/365).

Reaksi juga datang dari ulama Saudi yang dikenal sebagai pengikuit al-Atsariyyah, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam fatwanya, Lajnah Daimah menegaskan bahwa ulama yang menakwilkan sebagian sifat-sifat Allah atau menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tentang hakekat makna sifat-sifat masih tergolong Ahlus Sunnah dalam masalah-masalah yang sesuai dengan para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- dan para ulama salaf pada tiga abad pertama yang mendapatkan persaksian baik dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Namun mereka bersalah karena mentakwil nash yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah. (Fatawa Lajnah Daimah: 3/241).

Lebih tegas lagi apa yang disampaikan oleh Syaikh Utsamin bahwa tidak boleh mengatakan ahli bid’ah atau sesat kepada ulama yang masih menakwilkan ayat-ayat sifat, meski dalam pendapat mereka ada beberapa yang mengandung bid’ah. (Liqaat Bab Maftuh: 43/soal nomor: 9). Ini artinya, para ulama Saudi yang dikenal pengikut mazhab al-Atsyariyyah masih mengakui mazhab Asy’ari sebagai Ahlus Sunnah.

Terlepas dari perdebatan di kalangan ulama tentang boleh tidaknya menakwilkan ayat-ayat sifat Allah (Lihat, tulisan saya, “Mempertemukan Tiga Mazhab Ahlus Sunnah”), setidaknya penjelasan di atas sebagai bukti bahwa ketiga mazhab tersebut masih berada dalam rumah yang sama, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Butuh Sikap Bijak

Demi menjaga ukhuwah islamiyah, sudah saatnya masing-masing kelompok tidak memperebutkan istilah Ahlus Sunnah menjadi miliknya sendiri. Di saat umat Islam membutuhkan persatuan demi tegaknya peradaban Islam, masalah ini seharusnya disudahi. Masing-masing harus sadar, ada yang lebih penting untuk dibahas bersama yaitu persatuan dalam rangka menghadapi musuh-musuh Islam yang sudah ada di depan mata.

Selama kita masih memperebutkan istilah tersebut, musuh akan terus bertepuk tangan sambil menyusun kekuatan untuk menghancurkan umat Islam Ahlus Sunnah. Seyogyanya para Kiai, ustad tidak lagi membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu. Apalagi kemudian membuat jargon-jargon bahwa hanya golongannya saja yang mengikuti sunnah sedang lainnya tidak. Kemudian dipersempit lagi dengan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan bahwa merekalah Ahlus Sunnah sejati.

Demikian pula yang lainnya, seharusnya tidak mencibir atau mengucilkan saudaranya yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasul dengan berbagai cap negatif.

Dalam hal ini kita bisa ambil pendapat Imam Al Barbahari bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Syarhus Sunnah, no 2). Dengan kata lain Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya.

Kita harus selalu ingat firman Allah bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].

Demikian juga kepada para pencari ilmu juga harus selektif dan kritis ketika mencari ilmu. Belajarlah kepada banyak ustad atau Kiai supaya terbuka wawasannya. Jangan hanya membatasi kepada satu atau dua ustad. Contohlah para ulama salaf yang merasa tidak cukup jika hanya belajar kepada satu atau dua ulama. Rata-rata mereka memiliki guru yang jumlahnya sangat banyak.

Sedang kepada para Kiai dan ustad tidak ada salahnya mencontoh Imam Malik yang menyuruh Imam Syafi’I belajar kepada ulama lainnya setelah ia merasa ilmu yang diberikan kepada Imam Syafi’I sudah habis. Alangkah bijak para kiai dan ustad menyuruh para murid belajar kepada banyak guru, sebagaimana para ulama salaf kita belajar pada ulama lain.

Semoga Allah selalu membimbing kita dan menyatukan hati umat Islam.*

Sekretaris Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Jawa Timur.

Oleh: Bahrul Ulum

YukBersyariah.com
Berita yang Pasti, Umat Ini Pasti Meniru Mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟
“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 4822 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

#novalentine #budayasesat #YukNgaji  #YukBersyariah 

Semua sudah tertulis, terekam, terakses, dan bisa terus-menerus diulang-ulang. Tapi masih dibantah dan dipelintir, bahasa gaulnya "ngeles", ini memang ciri munafik sejati

Sekarang bilang takkan meminta maaf, dalam hitungan jam saja lalu meminta maaf, lisannya tak bisa dipegang, hanya mengikuti reaksi masyarakat, asal bisa menang nanti


Yang harusnya mengurusi laut, mendatangi kyai, segera setelah kasus terjadi, alasannya silaturahmi bukan yang lain. Dianggapnya semua ummat Islam itu tak mengerti

Tak hanya yang mengurusi laut, polisi pun mendatangi kyai, demi keamanan negara katanya, tapi yang jelas-jelas sumber masalah, masih dibiarkan saja, alasan lagi

Mengancam kyai besar dan sepuh dengan rekaman percakapan, ditanya darimana jawabannya 'Dari Tuhan'. Halusinasi tingkat dewa, dikiranya semua ummat ini bodoh dan tuli

Kita sudah tahu siapa pangkal masalah dari semua ini. Tapi kita harus tahu yang sekarang jelas benderang, dia tidak sendiri, dia punya komplotan, banyak dan berkuasa

Mereka berlindung di balik kata 'kebhinekaan, NKRI, keberagaman, toleransi, HAM' versi mereka sendiri, padahal tujuan mereka itu justru menghancurkan semuanya

Penista agama hanya juru bicaranya, kita harus menyadari bahwa ada kelompok besar dibelakangnya, mereka yang anti-syariah, pro-sekuler, agen kepentingan luar negeri

Maka bukan hanya penista agama yang harus diselesaikan, mereka juga agar di masa depan tak ada lagi kericuhan di negeri ini, tapi ini kerja besar yang perlu tenaga ekstra

Ingat bukan hanya orangnya, tapi juga sistemnya. Dan semua kemunafikan yang dipertontonkan pada kita ini jadi bukti nyata, tak ada keselamatan kecuali pada syariah Islam

Dalam sistem syariah, tak ada kesempatan bagi kafir untuk menjadi pemimpin, tak ada ruang bagi kekufuran di sistem kenegaraan, semua atas dasar Kitabullah dan Sunnah

Mau? 😀😀😀

Contributors

Powered by Blogger.