UsaBersyariah.Com --- Alhamdulillah, kita hidup di sebuah negeri yang penuh dengan limpahan kekayaan alam, itulah negeri kita Indonesia. Beragam kekayaan alam yang dimiliki negara Indonesia, baik itu berupa sumber daya alam yang dapat diperbaharui maupun tidak.


Sebagaimana data yang dilansir oleh situs http://indonesia.go.id, disebutkan bahwa letak geografis yang strategis menunjukkan betapa kaya Indonesia akan sumber daya alam dengan segala flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Sumber daya alam Indonesia berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi.

Namun, sayangnya kekayaan alam yang melimpah tersebut belum mampu untuk menyejahterakan penduduk di negeri ini yang berjumlah lebih dari 250juta jiwa. Kemiskinan masih cukup tinggi. Data dari BPS menyebutkan penduduk miskin di Indonesia pada bulan maret 2016 Mencapai 10,86 Persen (https://www.bps.go.id/brs/view/id/1229).

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Bukankah negeri kita sangat kaya? Betul, negeri kita sangatlah kaya, namun, kekayaan alam tersebut tidak bisa kita nikmati karena yang menikmati adalah perusahaan-perusahaan asing dan aseng, maupun swasta. Dan ini adalah buah dari cengkeraman sistem ekonomi neoliberalisme dari Ideologi Kapitalisme. Ekonomi liberalisme memiliki tujuan agar negara-negara kapitalis, yaitu Amerika dan sekutunya, dapat terus menguasai ekonomi negara-negara berkembang seperti Indonesia, sehingga dapat terus menjadi sapi perahannya.

Untuk mewujudkan nafsu neoliberalismenya, kekuatan kapitalis asing dunia telah memaksakan kepada Indonesia sejumlah undang-undang yang bernuansa liberal. Di Indonesia lebih dari 76 UU yang bernuansa liberal, draft (rancangan)-nya telah “dipaksakan” oleh pihak kapitalis asing. Contohnya adalah: UU Migas, UU Penanaman Modal, UU Kelistrikan, UU Sumber Daya Alam, UU Sumber Daya Air, UU Perbankan dan sebagainya. Muatan berbagai macam UU tersebut sangat jelas, yaitu untuk meliberalisasi ekonomi di sektor-sektor yang vital di Indonesia. Alhasil, negeri ini tengah dalam ancaman neoimperialisme (penjajahan gaya baru) melalui neoliberalisme.

Nah, kalau benar kita cinta Indonesia, apakah persoalan di atas bisa selesai dengan cukup menggaungkan “NKRI Harga Mati”? jawab nya tidak! Bentuk cinta kepada Indonesia adalah dengan bersungguh-sungguh mengerahkan semua potensi dan kemampuan kita agar negara ini bisa lepas dari cengkeraman para penjajah tersebut. karena sejatinya kita sedang dijajah melalui kebijakan ekonomi neoliberalisme.

Bagaimana caranya agar bisa lepas dari cengkeraman tersebut? terapkan syariah Islam. Syariah Islam akan membatalkan semua bentuk perjanjian dengan negara-negara Kapitalis tersebut.

Kenapa dibatalkan? Karena menyalahi Islam, izin ataupun kontrak yang diberikan adalah batal demi hukum dan tidak berlaku. Sebabnya, Nabi saw bersabda:

«كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ»

Setiap syarat yang tidak ada di Kitabullah (menyalahi syariah) adalah batil meski 100 syarat (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Jika kemudian perusahaan-perusahaan asing dan aseng tersebut dan pemegang kontrak pertambangan lainnya sudah terlanjur mengeluarkan biaya, biaya-biaya itu dikembalikan setelah diperhitungkan dengan hasil yang diambil. Hal itu dianalogikan dengan orang yang menanam di tanah orang lain. Nabi saw bersabda:

«مَنْ زَرَعَ فِى أَرْضِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَلَيْسَ لَهُ مِنَ الزَّرْعِ شَىْءٌ وَلَهُ نَفَقَتُهُ»

Siapa yang menanam di tanah satu kaum tanpa izin mereka maka dia tidak berhak atas tanaman itu dan untuk dia (dikembalikan) biayanya (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Setelah semua kontrak yang batil tersebut dibatalkan, maka selanjutnya SDA tadi diserahkan kepada negara untuk dikelola. Kemudian hasil dari pengelolaan SDA tadi dikembalikan kepada rakyat. Pengembalian SDA yang dikelola oleh negara kepada rakyat tersebut bisa berupa kebutuhan mendasar yang bersifat umum seperti layanan pendidikan yang berkualitas, kesehatan dan keamanan, yang diberikan secara gratis, atau murah. Kenapa bisa gratis atau murah? Karena SDA tadi adalah milik umat, bukan milik negara.

Hal ini berdasarkan hadits, dimana Rasulullah saw bersabda

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan energi api. [Hr. Ahmad]

Sebagian ulama berpendapat yang dimaksud وَالنَّار pada hadits ini mencakup bahan bakar yang didapat dari hasil bumi baik berupa kayu bakar dari tumbuhan liar, ataupun api itu sendiri atau dalam pengertian nyala api. Termasuk pula pada kategori api ialah panas bumi, gas, tenaga surya, api menyala, dan pengaturan cahaya. Al-Baydlawi berpendapat bahwa berserikat dalam api mencakup sinarnya, bahan bakar, sumber api, nyalanya dan cahaya matahari. Siapa pun tidak dibenarkan mencegah orang lain untuk mengambil manfaat dari api tersebut. [Faidul-Qadir, VI h.353]

Oleh karena itu semua bentuk pertambangan termasuk ke dalam istilah وَالنَّار yang terdapat di dalam hadits tersebut.

Hal yang memperkuat hujjah bahwa tambang tidak boleh dimiliki oleh Individu atau di swastanisasi adalah berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Abyadh bin Hammal ra. yang bercerita:

Ia pernah datang kepada Rasulullah saw. dan meminta diberi tambang garam. Lalu Beliau memberikannya. Ketika ia pergi, seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukah Anda apa yang Anda berikan, tidak lain Anda memberinya laksana air yang terus mengalir.” Ia berkata: Rasul lalu menariknya dari Abyadh bin Hammal (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban, dll).

Inilah kenapa kemudian HTI selalu menggaungkan agar syariah Islam diterapkan di negeri ini. Dengan syariah Islam, maka keadilan dan kesejahteraan akan bisa terwujud, dan kesejahteraan itu bukan hanya untuk umat Islam, namun juga untuk seluruh penduduk di Indonesia. hanya dengan syariah Islam-lah, semua permasalahan di negeri ini bisa terselesaikan, termasuk persoalan kemiskinan. Dan ini bukan hanya sebatas teori, namun sudah pernah terbukti saat dulu syariah Islam diterapkan.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. (99-102 H/818-820 M) misalnya, meskipun masa Kekhilafahannya cukup singkat, hanya 3 tahun, umat Islam terus mengenangnya sebagai khalifah yang berhasil menyejahterakan rakyat. Ibnu Abdil Hakam (Sîrah ‘Umar bin Abdul ‘Azîz, hlm. 59) meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, “Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Dan ini adalah bukti bahwa HTI cinta dan sayang kepada Indonesia, negeri yang penuh dengan kekayaan yang melimpah. Juru bicara HTI, M. Ismail Yusanto menyampaikan bahwa “berbagai kegiatan yang dilakukan HTI selama ini sesungguhnya adalah ikhtiar untuk menghadirkan pemahaman Islam yang syâmilah (menyeluruh) dan kâmilah (sempurna) dalam diri umat Islam di negeri ini. HTI sekaligus mengajak umat untuk mewujudkan Islam dalam realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara guna mengatasi berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini seperti persoalan kemiskinan, kerusakan moral, korupsi, kriminalitas yang merajalela, eksploitasi SDA oleh korporasi asing dan sebagainya. Dengan itulah akan terwujud kerahmatan Islam sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah SWT.”

Beliau juga menyatakan “sungguh aneh bila ada yang mengatakan bahwa HTI dengan kampanye syariahnya itu akan memecah-belah bangsa. Mengatakan bahwa syariah akan memecah belah bangsa, apalagi bila itu dikatakan oleh seorang Muslim, adalah sebuah kedangkalan berpikir yang sangat memalukan. Bagaimana bisa mereka mengatakan seperti itu, padahal faktanya justru sistem sekular-kapitalisme-liberal itulah yang telah membuat negara ini selalu dalam himpitan berbagai persoalan yang tak berkesudahan dalam semua aspek kehidupan. Mengapa mereka tidak mengatakan sistem sekuler itulah yang telah merusak bangsa dan negara ini?”

“Jadi, jelaslah bahwa perjuangan HTI adalah bentuk kecintaan pada Indonesia, dengan bentuk kecintaan yang benar seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Kecintaan HTI pada Indonesia bukan kecintaan yang semu apalagi chauvistik seperti yang dilakukan oleh banyak kelompok nasionalis sekuler; di satu sisi mereka bilang cinta Indonesia, namun di sini lain justru menggerogoti pilar-pilar penting tegaknya kedaulatan negeri ini. Mereka membiarkan berbagai kebijakan yang sangat pro asing, lalu membiarkan lahirnya aturan-aturan yang jelas-jelas sangat merugikan negara. Padahal semua itu terbukti justru telah membawa negeri ini pada jurang kehancuran. Jadi, siapa sebenarnya yang cinta Indonesia?” tambah beliau.[]

Oleh : Adi Victoria (Humas HTI Kaltim)

Secara Faktual Hizbut Tahrir Bekerja Untuk Menyatukan Umat, Baratlah Biang Kerok Perpecahan Dunia Islam.

UsaBersyariah.Com --- Sudah sejak lama barat berambisi untuk melawan dan mengalahkan umat Islam. Tidak sekedar itu, bahkan ambisi mereka hingga pada puncaknya untuk menghapus eksistensi umat islam dari kancah perpolitikan dunia. Sesungguhnya barat telah bersungguh-sungguh berupaya untuk menghilangkan eksistensi umat islam secara riil, atau setidaknya membuat perpecahan di dalam tubuh umat islam. Mereka melakukan semua itu dengan sangat serius dan penuh perhitungan dan strategi jitu untuk melumpuhkan seluruh bagian tubuh kaum muslimin.

Barat Biang Kerok Perpecahan Dunia Islam

Barat begitu memahami bahwa persatuan umat islam merupakan kunci kekuatan mereka untuk memimpin dan menguasai dunia. Bahkan melalui keberlangsungan peradaban islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah mampu menunjukkan posisinya sebagai kekuatan superpower dunia pada abad pertengahan. Meski dalam islam masih memiliki potensi terwujudnya perbedaan pendapat namun perbedaan itu mampu teratasi dengan baik melalui prinsip “perbedaan adalah Rahmat” dan “amrul imam yarfa’ul khilaf (perintah imam menghapus perbedaan)”. Prinsip ini menjadikan perbedaan dalam tubuh umat Islam dapat disatukan kembali dengan persatuan yang kokoh di dunia Islam.

Berbagai celah dalam tubuh umat islam senantiasa dicari oleh barat untuk memecah belah kaum muslimin. Ketika kekhilafahan Islam terakhir yang dipimpin oleh orang-orang turki (Turki Utsmani) berlangsung, saat itu barat melakukan upaya memecah umat islam melalui isu “pan arabisme” dan “pan islamisme”. Dunia islam dipaksa untuk menerima ide nasionalisme yang berkembang di eropa pasca perjanjian westphalia. Lalu meletusnya Perang Dunia Pertama dijadikan sebagai momentum untuk menghancurkan eksistensi Khilafah Islamiyah.

Pasca perang, Inggris dan Prancis sebagai representasi negara adidaya dunia saat itu melakukan perjanjian Sykes-Picot. Perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 16 Mei 1916 sedangkan nama perjanjian ini diambilkan dari nama masing-masing diplomat dari Inggris dan Prancis yakni François Georges-Picot dari Prancis dan Sir Mark Sykes dari Inggris. Keduanya merundingkan pemecahan wilayah Khilafah Turki Utsmani tersebut. Khilafah pun dapat diruntuhkan dan jadilah Dunia Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara.

Apakah barat berhenti dengan keberhasilan ini? Ternyata tidak. Barat sangat memahami bahwa meski khilafah islam telah dihancurkan, namun potensi persatuan umat islam masih sangat besar. Barat terus saja melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan perpecahan umat islam atau bahkan menjadikan pecahan-pecahan itu menjadi semakin kecil. Jika dulu aktor utamanya adalah Inggris sebagai negara penjajah nomor wahid dunia, saat ini AS lah yang memegang tampuk kekuasaan. Beberapa strategi kontemporer dapat dirujuk dari rekomendasi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tank neo konservatif Amerika Serikat yang banyak mendukung berbagai kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi yang disampaikan oleh Cheryl Benard yang berjudul “Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies” secara detil diungkapkan upaya untuk memecah-belah umat Islam, “Ada beberapa ide yang harus terus-menerus diangkat untuk menjelekkan citra Islam, yaitu demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, isu minoritas, pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk memukul istri.”

Tulisan dari Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan Direktur CIA yang berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology”, pun menunjukkan bagaimana CIA sampai mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk memecah-belah umat Islam.

Begitulah barat melangsungkan strategi mereka untuk perpecahan umat islam bahkan untuk kehancuran dunia islam. Dalam kaitannya dengan Indonesia, muncullah istilah: Islam fundamentalis versus moderat, tradisionalis versus modernis, substantif versus formalis, dan lain-lain. Umat Islam yang tidak tahu realitas di balik kemunculan istilah ini akhirnya bingung dan tentu saja memilih apatis. Ini adalah strategi mereka untuk menimbulkan konflik di tengah umat islam. Mereka berupaya menyibukkan umat islam dengan isu perbedaan mazhab, organisasi, dll. Mereka menghendaki agar umat islam saling serang antara satu dengan yang lain melalui perbedaan-perbedaan furu’iyah (cabang) yang sebenarnya bukan menjadi pokok persoalan utama. Bahkan barat terus saja menebar opini kepada seluruh komponen umat islam untuk menstigma negatif kelompok islam ideologis yang bertujuan untuk mengembalikan persatuan umat. Bagi barat, kelompok ideologis ini menyimpan potensi yang sangat berbahaya, karena apabila tujuan kelompok ini untuk merekonstruksi persatuan umat terwujud artinya upaya mereka selama ini untuk memecah belah umat islam akan berakhir sia-sia. Tentu perkara ini tidak mungkin mereka inginkan untuk terwujud, bahkan memimpikannya adalah suatu hal yang mengerikan.


Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi islam. Islam adalah asasnya dan politik adalah aktivitasnya. Tujuan Hizbut Tahrir adalah untuk melanjutkan kembali kehidupan islam melalui tegaknya Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah merupakan institusi politik yang mampu mewujudkan persatuan umat islam dengan persatuan yang kokoh.

Karena politik merupakan aktivitas yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir, maka aktivitas yang menonjol di Hizbut Tahrir adalah aktivitas pemikiran. Hizbut Tahrir memandang bahwa untuk mengubah kondisi umat islam saat ini menuju kebangkitannya harus diawali dengan adanya perubahan pemikiran. Termasuk perpecahan umat islam yang berlangsung hingga detik ini tidak terlepas dari ide-ide pemikiran barat untuk menghancurkan kaum muslimin. Maka untuk melawan dan mengenyahkan ide-ide jahat ini diperlukan perlawanan berupa pemikiran. Pemikiran-pemikiran barat kini telah tertanam di dalam benak generasi islam baik di kalangan cendekiawan, politisi, pelajar, bahkan kepada ulama. Tentu akan menjadi bencana besar apabila pemikiran barat ini dibiarkan terus berkembang di dalam jiwa-jiwa kaum muslimin.

Keberadaan Hizbut Tahrir di tengah umat adalah untuk melakukan detoksifikasi racun pemikiran barat yang telah menyebar dalam benak umat islam lalu memberikan obat mujarab berupa pemikiran baru yang diadopsi dari nilai-nilai islam. Konsekuensi dari aktivitas ini adalah Hizbut Tahrir akan berhadapan secara langsung dengan generasi umat islam yang telah terlanjur menjadikan pemikiran barat sebagai rujukan pemikiran mereka. Bahkan sangat besar potensi adanya perlawanan dari sesama muslim untuk menyerang pemikiran yang dibawa oleh Hizbut Tahrir. Ini dikarenakan pemikiran yang dibawa oleh sebagian besar umat islam saat ini bersumber dari doktrin-doktrin barat, sedangkan pemikiran Hizbut Tahrir diadopsi dari ajaran-ajaran islam. Tentu dua ide ini tidak akan mencapai kesepakatan, bahkan keduanya akan terus cenderung untuk saling mempengaruhi dan mendominasi.

Namun Hizbut Tahrir akan terus menerus menyebarkan ide-idenya kepada seluruh lapisan umat hingga umat islam benar-benar sadar bahwa pemikiran barat yang selama ini mereka emban adalah racun yang mematikan. Hizbut Tahrir sangat menyadari bahwa perpecahan umat islam saat ini karena umat islam mengadopsi pemikiran barat dan menjauhi pemikiran islam. Maka Hizbut Tahrir akan selalu istiqomah dan bersabar penuh keikhlasan untuk membina umat untuk mewujudkan persatuan umat islam kembali sebagaimana dahulu.

Hizbut Tahrir juga akan terus menyuarakan bahwa perpecahan umat islam saat ini dikarenakan umat islam sudah tidak memiliki institusi pemersatunya, yakni Khilafah Islamiyah. Untuk mewujudkan persatuan yang nyata Hizbut Tahrir tak akan pernah lelah untuk mendakwahkan ide khilafah ini ke seluruh komponen umat islam. Serta akan selalu mengajak umat islam untuk bersama-sama berjuang untuk membangun kembali kekhilafahan islam.

Hizbut Tahrir pun akan selalu berupaya mengungkap dan membongkar rencana-rencana jahat barat dan para antek-anteknya di dunia islam. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penyadaran umat akan bahaya konspirasi barat dan para antek-anteknya atas kaum muslimin. Hizbut Tahrir akan terus meyakinkan kepada umat bahwa barat dan para antek-anteknya tidak patut untuk memimpin dan berkuasa atas mereka. Serta menyerukan untuk meninggalkan dan mencampakkan sistem kapitalisme demokrasi yang digagas oleh para pemikir barat.

Hizbut Tahrir juga akan senantiasa menggelar berbagai agenda untuk membuka mata umat akan kejahatan sistemik yang ada dan menunjukkan solusi-solusi islam sebagai solusi terbaik atas problematika umat saat ini. Selain itu juga untuk terus memperkenalkan dan mengkampanyekan ide-ide islam yang cemerlang di tengah-tengah umat. Inilah kerja Hizbut Tahrir yang telah dilakukan di masa lampau, kini, nanti, dan seterusnya. Maka sudah sepatutnya bagi umat islam untuk menyambut dengan hangat seruan Hizbut Tahrir serta mendukung bahkan bergabung dengannya. Semakin banyak komponen umat islam yang turut berjuang maka akan semakin cepat untuk menghancurkan dominasi pemikiran barat untuk memecah belah umat islam dan akan semakin pesat pula perkembangan pemikiran islam yang akan mewujudkan persatuan dan kebangkitan umat Islam.[]

Oleh: A.R. Zakarya (Tinggal di Jombang)

EKSPEDISI SEMARANG,Terbentangnya Panji Rasulullah di Puncak Gunung Merbabu ( Sebuah Catatan Pendakian Oleh: Za’im Ahmad )

Panji Rasulullah Terbentang di Puncak Gunung Merbabu

Pada 24 April 2017, 21 mahasiswa dan pemuda dari Solo yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Semarang berhasil mengibarkan panji Rasulullah saw., al-Liwa dan ar-Rayah di puncak Gunung Merbabu. 

Ekspedisi ini dimulai pada hari Ahad, 23 April 2017 melalui jalur Selo, dan start dari Base Camp pukul 10.45 WIB. Bebarapa saat awal perjalanan pendakian, kondisi cuaca cukup mendukung karena tidak ada panas dan tidak juga mendung, sehingga perjalanan berjalan lancar sampai Pos 2.

Meski perjalanan cukup lancar, ada beberapa peserta yang mengalami kram kaki dan kecapekan, namun pesera lain cukup sigap untuk segera membantu dengan memijat kaki dan membawakan barang bawaan secara bergantian. Namun, cuaca mulai berubah setelah melewati Pos 2 menuju Sabana 1, awan mendung mulai menyelimuti langit dan kemudian turun hujan.

Panji Rasulullah Terbentang di Puncak Gunung Merbabu

 Kondisi jalan yang semakin menanjak dan hujan yang turun cukup lama membuat tanah menjadi becek dan peserta pendakianpun harus menggunakan mantel hujan. Perjuangan menuju Sabana 1 adalah yang paling berat, karena kondisi hujan, ditambah kondisi tanah yang becek, dan kemiringan lereng lebih dari 45 derajat.

Setelah berjalan kurang lebih 1,5 jam akhirnya peserta sampai di Sabana 1 dengan kondisi kabut yang cukup tebal. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Sabana 2 untuk nge-camp dan bermalam. Di Sabana 2 para peserta membangun tenda, memasak, melaksanakan sholat berjamaah, dan istirahat melepas lelah. 

Panji Rasulullah Terbentang di Puncak Gunung Merbabu

Memasuki esok hari, setelah sholat Subuh berjamaah para peserta bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak. Dengan membawa bekal seperlunya dan bendera yang sudah disiapkan, perjalananpun dimulai dari Sabana 2 menuju Puncak. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai di puncak.

Akhirnya, pukul 07.15 WIB para peserta sudah sampai di Puncak Gunung Merbabu, dan misi pengibaran panji Rasulullah pun dimulai. Butuh beberapa saat untuk mencari tempat yang lapang untuk pengibaran bendera tersebut, karena pagi hari puncak sudah dipenuhi oleh banyak pendaki. Setelah 10 menit, akhirnya didapatkan tempat yang cukup lapang untuk pengibaran bendera.

Panji Rasulullah Terbentang di Puncak Gunung Merbabu

 Agak sedikit lama untuk pengibaran bendera dengan ukuran 9 x 6 meter dengan kondisi tebing yang cukup curam dan angin agak kencang. Setelah persiapan selama 5 menit, panji Rasulullah pun mulai dibentangkan secara perlahan di atas puncak Gunung Merbabu. Sontak, prosesi pembentangan bendera raksasa tersebut menarik perhatian banyak pendaki lain untuk ikut membantu membentangkan dan beberapa di antara mereka ikut mengabadikan momen pengibaran tersebut.

Tepat pukul 07.30 panji Rasulullah saw. telah benar-benar terbentang berkibar di atas puncak Gunung Merbabu. Peristiwa langka ini menarik perhatian banyak pendaki. Seruan takbir pun bergemuruh pecah tak henti-hentinya menembus langit, wujud kerinduan mendalam untuk hidup di bawah naungan panji Rasulullah saw., al-Liwa dan ar-Rayah. Alhamdulillah atas pertolongan Allah, misi pengibaran panji raksasa al-Liwa dan ar-Rayah telah sukses.

Panji Rasulullah Terbentang di Puncak Gunung Merbabu

 Setelah pengibaran panji raksasa, para pesertapun kembali bergegas untuk turun, dan Alhamdulillah semua dapat turun dan kembali dengan selamat sampai Solo.

#PanjiRasulullah
#IslamRahmatanLilAlamin

Gunung Merbabu, Boyolali, Jawa Tengah 23-24 April 2017

Source : Dakwah solo 

Contributors

Powered by Blogger.